MAKALAH
TEKHNIK
PENULISAN KAYA ILMIAH (TPKI)
PERAN
KARAKTER DALAM DAKWAH
Dosen pengampu: Anwar Djaelani
Disusun oleh: Ahmad Padilah
Prodi: KPI
Tahun Akademik 2018-2019
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiimi
Segala puji bagi
Allah yang telah membawa penulis hingga tahap penyelesaian makalah. betapa
banyak kesibukan dalam aktivitas ini, namun hal itu tidak menjadi hambatan
untuk penulis menyelesaikan makalah. karena, semua ini tidaklah terjadi.
Kecuali atas izin Allah.
Tidaklah hati
ini, jiwa ini, batin ini bahagia kecuali tiada hentinya lisan ini mengucapkan
Alhamdulillah atas semua nikmat engkau Yaa Allah.
Tidak lupa pula
shalawat beriring salam kepada panutan kita, sehingga penulis dapat menjaga
batasan yang telah dicontohkannya agar tidak melewati batas syari’ah. Yakni
Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya, para sahabat, tabi’in, atbu tabi’in
Terima kasih
teruntuk semua yang ikut andil dalam penyelesaian makalah ini, semoga Allah
membalas atas semua kebaikannya. Aamiin
Surabaya,
06 Desember 2018
Mahasiswa STAIL
(Ahmad Padilah)
Kata pengantar ............................................................................................................. I
Daftar isi...................................................................................................................... II
BAB I Pendahuluan
A.
LATAR
BELAKANG.................................................................................... 1
B.
RUMUSAN
MASALAH............................................................................... 2
BAB II Tentang Karakter dam Dakwah
A.
KARAKTER.................................................................................................... 3
1.
Pengertian................................................................................................... 3
2.
Karakter
dalam islam.................................................................................. 3
3.
Karakter
masa jahiliyah............................................................................... 4
4.
Karakter
Rasulullah..................................................................................... 5
5.
Tatanan
dan urgensi karakter dalam islam.................................................. 8
B.
DAKWAH........................................................................................................ 8
1.
Pengertian................................................................................................... 8
2.
Dakwah
sebagai tugas Da’i......................................................................... 9
BAB III Kesimpulan Dan Saran
A.
KESIMPULAN............................................................................................. 11
B.
SARAN......................................................................................................... 11
Daftar Pustaka............................................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam kehidupan saat ini karakter banyak
diperbincangkan ditengah umat, terutama dikalangan orang-orang berilmu. Sikap
dan prilaku umat dan bangsa yang sekarang ini cenderung mengabaikan nilai-nilai
mulia yang sudah lama dijunjung tinggi dan mengakar dalam sikap dan karakter
sehari-hari. Nilai-nilai karakter mulia seperti kejujuran, kesantunan,
kebersamaan dan religius, sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh budaya asing
yang hedonistik, materialistik dan individualistik, sehingga nilai-nilai
karakter mulia tersebut tidak lagi dianggap penting jika bertentangan dengan
tujuan yang ingin diperoleh.[1]
Jika disimak dengan cermat, bagaimana
Rasulullah SAW berjuang sehingga menghasilkan suatu transformasi sosial yang
begitu besar, bukanlah didasarkan pada spontanitas dan reaksi situasional yang
segmentatif. Sebaliknya ada suatu kerangka kerja yang sistematis yang berjalan
kontinyu dan konsisten serta kinerja Rasulullah dapat dilihat dengan jelas
dengan turunnya wahyu Al-Qur’an sehingga menghasilkan peradaban islam bisa
puncak dan tegak kehidupan manusia dimana setiap orang mamapu mewujudkan diri
sebagai hamba Allah dan khalifah dimuka bumi.
Keberhasilan Rasulullah dalam mengubah wajah
dunia, tidak terlepas dari perjuangan beliau bersama para sahabatnya. Dalam
waktu yang relatif singkat, wajah suram dunia arab jahiliyah berubah dengan
cahaya iman. Kawasan yang tadinya tidak beradab diubab menjadi kawasan yang
berpradaban tinggi. Masyarakat yang tadinya berpegang teguh pada tradisi nenek
moyang diubah menjadi masyarakat yang menggunakan akal dan hati nuraninya untuk
menerima bimbingan hidayah. Masyarakat yang menyebah berhala, berubah menjadi
masyarakat bertauhid.
Sukses Rasulullah mengubah wajah dunia ini
bukannya datang secara tiba-tiba, selain diraih melalui usaha, kerja keras dan
perjuangan yang tak pernah putus, yang lebih penting lagi ridha, petunjuk dan
bimbingan yang beliau terima dari Allah SWT.[2]
Keberhasilan Rasulullah SAW dalam
mendakwahkan islam dibumi jazirah arab, tidak terlepas dari pedoman karakter
beliau sebagai seorang Rasul. Banyak tantangan, cobaan dan kecaman yang
dihadapi Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam menyebarkan islam.
Konsep dakwah yang mengedepankan perbuatan
nyata adalah agar si penerima dakwah (al-mad’ulah) mengikuti jejak dan
hal ikhwal si da’i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang
besar pada diri penerima dakwah. Pada saat pertama kali Rasulullah SAW tiba
dikota madinah, beliau mencontohkan dakwah bil-hal dengan mendirikan
mesjid Quba, dan mempersatukan kaum Anshar dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah
islamiyah.[3]
Sudah terbukti bahwa Rasulullah SAW. Sebagai
suri tauladan yang baik, dalam perjalanannya berdakwah, beliau membimbing para
sahabatnya dengan karakter yang baik sebagai hikmah dari perjalanan dakwah
beliau untuk dijadikan suri tauladan, baik saat beliau masih ada atau setelah
beliau wafat.
Bedasarkan paparan distas, maka penulis
tertarik untuk dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan judul “peran karakteristik
dalam dakwah”
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang telah
penulis uraikan diatas, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Kenapa peran karakter penting dalam dakwah?
2.
Bagaimana membangun karakter dalam dakwah?
BAB II
TENTANG KARAKTER DAN DAKWAH
A.
KARAKTER
1.
Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali
menyamakan istilah karakter dengan watak, sifat ataupun kepribadian. Padahal
jika ditelisik lebih lanjut, arti karakter dengan watak ataupun sifat tidaklah
sama.
Lantas apa itu karakter? Pada dasarnya
karakter merupakan akumulasi dari sifat, watak dan juga kepribadian seseorang.
Selain pengertian ini, ada banyak sekali pengertian kata karakter yang
diungkapkan oleh para ahli. Pengertian karakter menurut para ahli:
·
Wyne
Karakter menandai bagaimana cara ataupun
teknis untuk menfokuskan penerapan nilai kebaikan kedalam tindakan ataupun
tingkah laku.
·
Kamisa
Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak
dan budi pekerti yang dapat membuat seseorang terlihat berbeda dari orang lain.
Berkarakter dapat diartikan memiliki watak dan juga kepribadian.
·
Gulo w
Karakter adalah kepribadian yang dilihat dari
titik tolak etis ataupun moral (contohnya kejujuran seseorang). Karakter
biasanya memiliki hubungan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.[4]
2.
Karakter dalam Islam
Didalam terminologi islam, karakter disamakan
dengan khuluq (bentuk tunggal dari mufrod). Akhlak yaitu kondisi batiniyah
dalam dan lahirian (luar) manusia. Kata akhlak berasal dari khalaqa خلق)) yang
berarti perangai, tabiat dan adat istiadat. Akhlak sendiri diambil dari bahasa
arab yang bentuk mufradnya berarti khuluqun خلق yang mneurut logat
diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.[5]
Muhammad bin Ali Asy-syarif Al-jurjani mengatakan bahwa, akhlak itu bagi
sesuatu sifat yang tertanam kuat dalam diri yang darinya keluar
perbuatan-perbuatan dengan mudah, ringan tanpa perlu berfikir dan merenung. Akhlak
adalah sikap manusia dalam bergaul sesamanya. Ada yang terpuji ada yang tercela.
3.
Karakter pada masa jahiliyah
Kita pasti sudah mengetahuinya bagaimana
kehidupan pada masa jahiliyah, banyak terdapat hal-hal yang hina. Tindakan
pelecehan terhadap perempuan dan tindakan yang tidak pantas dilakukan dan
diterima baik secara akal maupun ruhani. Namun, walaupun begitu mereka masih
memiliki akhlak terpuji, yang mengundang kekaguman manusia dan simpati.
Diantara akhlak-akhlak itu ialah:
a.
Kedermawanan
Mereka saling berlomaba-lomba dan membanggakan diri dalam masalah
kedermawanan dan kemurahan hati. Bahkan separuh syair-syair mereka bisa
dipenuhi dengan pujian dan sanjungan terhadap kedermawanan ini. Diantara
kedermawanan ini, mereka biasa merasa bangga karena minum khamr. Bukan
kebanggan karena minumnya itu, tetapi karena hal itu dianggap sebagai salah
satu cara untuk menunjukan kedermawanan dan merupakan cara paling mudah untuk
menunjukan pemborosannya. Maka, tidak heran jika mereka menyebut pohon anggur
dengan nama al-karam (kedermawanan), sedangkan khamr yang dibuat dari
anggur disebut bintul-karam (putri
kedermawanan).
Pengaru lain dari kedermawanan ini. Mereka
biasa main judi, mereka menganggap main judi merupakan salah satu cara untuk
mengekspresikan kedermawanan, karena dari laba judi itulah mereka bisa memberi
makan orang-orang miskin, atau mereka bisa menyisihkan sebagian uang dari andil
orang-orang yang mendapat laba. Oleh karena itu Al-Qur’an tidak mengingkari
manfaat khamr dan main judi, namun dengan membuat redaksi sebagai berikut:
“tetapi dosa keduanya lebih besar dari
manfaatnya.”
(Al-Baqarah:219)
b.
Memenuhi janji
Di mata mereka, janji sama dengan hutang yang harus dibayar. Bahkan
mereka lebih suka membunuh anaknya sendiri dan membakar rumahnya dari pada
meremehkan janji. Kisah tentang Hani’ bin mas’ud Asy-Syaibany, As-Samau’al bin
Adiya dan Hajib bin Zararah sudah cukup membuktikan hal itu.
c.
Kemuliaan jiwa dan keengganan menerima kehinaan dan
kelaliman
Akibatnya, mereka bersikap berlebih-lebihan dalam masalah keberanian, sang pecemburu dan
cepet naik darah. Mereka tidak mau mendengar kata-kata yang menggambarkan kehinaan
dan kemorosotan, melainkan mereka bangkit menghunus pedang, lalu pecah
peperangan yang berkepanjangan. Mereka tidak lagi memperdulikan kematian bisa
menimpa diri sendiri karena hal itu.
d.
Pantang mundur
Jika mereka sudah menginginkan sesuatu yang disitu ada keluhuran dan
kemuliaan, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghadang atau mengalihkannya.
e.
Kelemahlembutan dan suka menolong orang lain
Mereka biasa membuat sanjungan tentang sifat ini. Hanya saja sifat ini
kurang tampak karena mereka berlebih-lebihan dalam masalah keberanian dan mudah
terseret kepada peperangan.
f.
Kesederhanaan pola kehidupan badui
Mereka tidak mau dilumuri warna-warni pradaban dan gemerlapnya. Hasilnya
adalah kejujuran, dapat dipercaya, meninggalkan dusta dan penghianatan.
Kita melihat akhlak-akhlak yang sangat berharga ini, disamping letak
geografis jazirah arab, merupakan sebab mengapa mereka dipilih untuk mengemban
beban risalah yang menyeluruh, menjad pemimpin umat dan masyarakat manusia.
Sebab akhlak-akhlak ini, sekalipun sebagian diantaranya ada yang menjurus
kepada kejahatan dan menyeret kepada kejadian-kejadian mengenaskan, toh pada
dasarnya itu merupakan akhla yang berharga, yang bisa mendatangkan manfaat
secara menyeluruh bagi masyarakat manusia jika mendapat sentuhan perbaikan.
Maka, inilah tugas islam.
Barangkali akhlak yang paling menonjol dan paling banyak mendatangkan
manfaat setelah pemenuhan janji adalah kemuliaan jiwa dan semangat pantang
mundur. Sebab kejahatan dan kerusakan tidak bisa disingkirkan, keadilah dan
kebaikan tidak bisa disingkirkan, keadilan dan kebaikan tidak bisa ditegakkan
kecuali dengan kekuatan ambisi seperti itu. Sebenernya mereka masih mempunyai
sifat-sifat utama selain yang kita sebutkan ini.[6]
4.
Karakter (akhlak) Rasulullah
Diantara
perintah Allâh Azza wa Jalla kepada kita adalah perintah agar kita mengikuti
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Allâh Azza wa Jalla berfirman : لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ
وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21]
Untuk meneladani dan
mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kita terlebih dahulu harus
mengetahui bagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupannya.
Maka pada hari ini, kita akan sedikit saling mengingatkan tentang keagungan
pribadi dan akhlak Muhammad Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Semoga
dengan mengenal dan terus mengingatnya, kita akan semakin terpacu untuk
mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Pribadi Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang sangat agung, yang menjunjung
tinggi akhlak mulia. Akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memadukan
antara pemenuhan terhadap hak Allâh, sebagai Rabbnya dan penghargaan kepada
sesama manusia. Dengannya, hidup menjadi bahagia dan akhirnya berbuah manis.
Bagaimanakah akhlak Rasûlullâh itu? Berikut diantaranya :
Muhammad Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang banyak sekali bersyukur
kepada Allâh Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya dan sering bertaubat dan
beristigfâr. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sampai
kedua kaki beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bengkak, sehingga ada yang
mengatakan
يَا رَسُوْلَ اللهِ غَفَرَ
اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أَكُونُ
عَبْدًا شَكُورًا
“Wahai Rasûlullâh! Allâh
telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang datang?” Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ringan menjawab, “Apakah aku tidak mau
menjadi hamba yang banyak (pandai) bersyukur?!”
Meski beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam sangat pandai bersyukur kepada atas segala limpahan
nikmat-Nya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap saja banyak
beristighfâr, memohon ampun kepada Allâh Azza wa Jalla . Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ
اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Rasûlullâh Shallallahu
‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangan beliau, meskipun
seorang pembantu kecuali dalam kondisi jihad fi sabilillah. Beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam juga tidak pernah melakukan aksi pembalasan terhadap semua
perlakuan buruk yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam alami kecuali jika
perlakukan buruk tersebut sudah masuk kategori pelanggaran terhadap apa yang
diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla , maka saat itu beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam melakukan pembalasan karena Allâh Azza wa Jalla
Pergaulan beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya sebatas orang-orang dewasa saja,
beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mendatangi dan mengucapkan salam
kepada anak-anak kecil serta mencandai mereka. Namun perlu diingat bahwa
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan perkataan
dusta, meski sedang bercanda. Pernah ada yang mengatakan kepada Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ
تُدَاعِبُنَا قَالَ إِنِّي لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا
Wahai Rasûlullâh,
sesungguhnya engkau mencandai kami,” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Sesungguhnya saya tidak mengucapkan apapun kecuali yang benar.” [HR.
al-Bukhâri dalam Adabul Mufrad, no. 265 dan at-Tirmidzi, no. 1990 dari hadits
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu][7]
5.
Tatanan dan urgensi karakter dalam islam
a.
Tatanan karakter dalam perspektif islam
Seperti
yang sudah kita ketahui sebelumnya
Tatanan
akhlak dalam perspektif islam bercirikan dua hal sebagai berikut:
·
Karakter Rabbani
Hal ini menjadi dasar yang paling kuat karena setiap detik kehidupan
manusia harus berdasarkan atas hasratnya untuk berkhidmah kepada Allah memalui
intraksinya dengan makhluknya. Karena itu, wahyu dirilis sejalan dengan bentuk
tatanan akhlak ini.
·
Karakter manusiawi
Jika dilihat dari akhlak yang merupakan aturan hukum dari dasar-dasar
umum lainnya.
b.
Urgensi karakter dalam perspektif islam
·
Merupakan salah satu tujuan risalah islam
·
Standar kebaikan seorang mu’min
·
Menjadi unsur penentu kesempurnaan iman seseorang
·
Salah satu amalan memperberat timbangan pada hari akhir
·
Faktor terbesar masuknya seorang muslim kesyurga[8]
B.
DAKWAH
1.
Pengertian
Hal yang sangat menarik berkaitan dengan dakwah Nabi SAW. Adalah
ketajamannya dalam melihat social setting masyarakat saat itu.
Masyarakat arab, ketika wahyu turun, digambarkan para sejarawan sebagai
komunitas masyarakat jahiliyah. Yang mana sikap dan prilakunya masih kental
sebagaimana nenek moyang mereka.[9]
Mereka menganut berbagai agama dan kepercayaan. Yahudi, kristen,
syabi’in dan zoroaster adalah diantara beberapa agama dan kepercayaan yang
populer saat itu. Mereka memiliki kebiasaan menyenbah kepada tuhan yang banyak
(syirik) dengan ka’bah sebagai pusat peribadatan. Permusuhan dan peperangan
dalam merebutkan wilayah kekuasaan, praktek riba dan prilaku tidak layak
terhadap wanita. [10]
Banyak definisi telah dibuat untuk merumuskan pengertian dakwah yang
intinya adalah mengajak manusia ke jalan Allah SWT agar mereka bahagia didunia
dan di akhirat.[11]
Sebenarnya dakwah itu bisa dipahami sebagai materi ataupun tindakan
Dalam bahasa arab, da’wat atau da’watun biasa digunakan
untuk arti-arti: undangan, ajakan dan seruan yang kesemuanya menunjukan adanya
komunikasi antara dua pihak dan upaya mempengaruhi pihak lain. Ukuran
keberhasilan undangan, ajakan atau seruan adalah manakala pihak kedua yakni
yang diundang memberikan respon fositive, yaitu mau datang atau memenuhi
undangan itu. Jadi, kalimah dakwah mengandung muatan makna aktiv
dan menantang.[12]
Aktivitas dalwah bertujuan menyebarkan ajaran Al-qur’an dan hadits yang
dibawa Rasulullah SAW. Dalam islam, menyampaikan ajaran islam bukan hanya
tanggung jawab para ahli agama (ulama) saja, melainkan setiap orang islam
sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. “Sampaikan dariku walaupun hanya
satu ayat” begitu petikan sabda Rasulullah yang secara eksplisit mewajibkan
menyampaikan dakwah bagi setiap umat islam.
Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama islam lebih
dari 85% penduduknya memeluk islam. Meskipun mayoritas, muslim indonesia tidak
memiliki kekuatan signifikan khususnya dalam politik. Dua masa rejim kekuasaan
orde lama dan orde baru telah mengkrangkeng umat islam dari kehidupan politik
dan tidak memiliki kendali politik.[13]
2.
Dakwah sebagai tugas Da’i
Kalimat dakwah mengandung
muatan makna aktif dam menantang, berbeda dengan kalimat tabligh
yang artinya menyampaikan. Ukuran keberhasilan seorang mubaligh adalah
manakala ia berhasil menyampaikan islam dan pesannya sampai (mawa ‘alaina
illa al balagh) sedangkan bagaimana respon masyarakat tidak menjadi
tanggung jawab.
Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa bahwa dakwah ialah usaha
mempengaruhi orang lain agar mereka bersikap dan bertingkah laku seperti apa
yang didakwahkan oleh Da’i.[14]
Dalam
berdakwah, seorang da’i menghadapi tantangan beraneka ragam bentuknya,
baik bentuk klasik: bisa pada penolakan, cibiran, cacian, ataupun teror
bahkan sampai pada tataran fitnah. Banyak para da’i mampu mengatasi tantangan
atau rintangan tersebut dengan baik baik karena niatnya memang telah kuat
sebagai pejuang. Meski demikian, ada pula yang tidak mampu untuk mengatasinya
sehingga tersingkir dari kancah dakwah[15]
Allah swt. telah memberikan rambu-rambu
kepada kita tentang hal ini:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka sedang dibiarkan
(saja) mengatakan, “ Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji?
Sesungguhnya kami telah menguji orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah
mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Ia mengetahui orang yang
berdusta.” (al-Ankabut:
2-3).
Jalan dakwah bukan rentang yang pendek
dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat
banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan
dikenali setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah (da’i) bersiap diri
menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi
informasi dan komunikasi di jalan dakwah bisa kita atasi.[16]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sadar tidak sadar, pada era tekhnologi informasi saat ini umat manusia
dihadapkan pada berbagai pilihan. Yang dimana pilihan itu dapat membawa
perubahan, manfaat dan hikmah. Dalam memilih strategi dakwah, bahwa pentingnya
strategi dalam dakwah islam yang dibuat secara rasional agar dapat mencapai
tujuan-tujuan islam yang meliputi kemanusiaan. Strategi dakwah karakteristik
brarti suatu perencanaan yang matang dan bijak tentang dakwah islam secara
rasional untuk mencapai tujuan islam.
Karakter itu bisa kita dapat dari panutan kita yakni Nabi Muhammad SAW
sebagai uswatun hasanah. Karena beliau adalah satu-satunya makhluk Allah yang
paling sempurna. Mulai dari cara beribadah hingga beliau meludah, disitu tidak
ada yang kita tidak tiruan, kecuali bila kita tidak menginginkan pahala dari
Allah. Maka dari itu, disisi kita berdakwah, kitapun dapat mengamalkan ilmu
yang kita miliki.
B. Saran
Kita sebagai seorang muslim, wajib bagi kita
menyampaikan ilmu yang kita miliki. Salah satunya memalui sikap kita terhadap
orang lain. Karena, kebanyakan orang seringkali terkagum dengan sikap yang
terpuji daripada menyampaikan yang terkesan menyuruh.
Daftar Pustaka
Al-Mubarakfury Syafiyyurahman, sirah
nabawiyah (Jakarta: pustaka al-kautsar, 1997)
Aripudin Acep dan Syukriadi
Sambas, dakwah damai, (Bandung: PT remaja rosdakaya 2007)
Baca makalah pengertian pendidikan
karakter 05/09/2013
Baca skripsi kajian materi dakwah
dalam konsep sistematika nuzulnya wahyu (SNW) 2011
Baca skripsi pola dakwah sidang
dakwah masjid mujahidin 2011
Baca https://makalahnih.blogspot.com/2014/09/kata-pengantar-alhamdulillahsegala-puji.html
Mubarok Achmad, psikologi
dakwah, (Jakarta:pustaka firdaus 1999)
[1] Baca makalah pengertian pendidikan
karakter 05/09/2013
[2] Baca skripsi kajian materi dakwah
dalam konsep sistematika nuzulnya wahyu (SNW) 2011
[3] Baca skripsi pola dakwah sidang
dakwah masjid mujahidin 2011
[5] Baca
https://makalahnih.blogspot.com/2014/09/kata-pengantar-alhamdulillahsegala-puji.html
[6] Shafiyyurahman Al-Mubarakfury, sirah
nabawiyah (Jakarta: pustaka al-kautsar, 1997), h. 63-65
[8] Ibid.
[9] Acep Aripudin dan Syukriadi Sambas,
dakwah damai, (Bandung: PT remaja rosdakaya 2007), h.9
[10] Ibid., 8
[11] Achmad Mubarok, psikologi dakwah,
(Jakarta:pustaka firdaus 1999)., h. 19
[12] Ibid.
[13] Ibid., h.108
[14] Ibid.,
h.19-20
[16] Ibid.
No comments:
Post a Comment