Cerpen

Dari berbagai pengalaman diri, orang lain maupun hayalan

Saturday, December 15, 2018

Bidadari Impian

BIDADARI IMPIAN
Oleh: A. Fadhillah
(Mahasiswa STAIL)


Brakkk .... suara badan fahmi saat direbahkan diatas kasur. Setelah melakukan aktivitas, selama seharian yang melelahkan. Huuuhhhff suara nafas lega.
fahmi???panggil ummi dibalik pintu kamar fahmi. cepetan nak! Ini sudah jam berapa?
iya mi, sebentar lagi. Fahmi sedang pakai minyak rambut dulu.
ummi tunggu ya!
Ditatapnya cermin , seolah ia tidak percaya akan melakukan ijab qabul. Sembari hatinya gemetar dicampur dengan senang, Seakan hatinya tengah konflik. Entahlah bagaimana mengungkapkannya. Namun, hal itu dapat dirasakan.
Dengan mengucapkan bismillahirrahmaanirrahiimi  kemudian tarik nafas  dan dibuang sambil memejamkan mata.
fahmi??dikagetkannya fahmi oleh suara ummi dibalik pintu kamar.
iya mi. Fahmi sudah siap
Dibukakannya pintu kamar mi. Ko deg-degan yah
Dikepakkanya tangan kanan umi seolah menghilangkan  sesuatu didepan wajah. ahh biasa itu nak. Sudahlah ayo kita berangkatajak ummi sambil menarik tangan kirinya  fahmi .
Tak lama fahmi, ummi dan juga rombongan sampai dilokasi ijab qabul (mesjid yang tidak jauh dari rumah mempelai wanita). Selama perjalanan, fahmi tidak merasakan lelahnya perjalanan. Karna, antara senang dan resah saling berlawanan dalam batinnya. 
Sebentar lagi ia akan memiliki bidadari impiannya yang selama ini di dambakannya. Padahal tidak pernah melihat wajah aslinya, melainkan hanya dua mata dan dua telapak tangan. Selebihnya ia tidak mengetahui.
Fahmi pun duduk didepan meja setinggi betis orang dewasa yang sudah disediakan panitia. Disekeliling fahmi sudah banyak jamaah, saksi dan juga penghulu yang duduk tepat berhadapan dengan fahmi, namun terhalangi dengan meja didepannya.
Tidak lama fahmi menunggu, sekitar 7menit kurang lebih. Datanglah mempelai wanita sang bidadari impian mengenakan baju pengantin berwarna putih. Dengan kerudung dipenuhi kelap-kelip permata buatan, serta niqab yang juga menambah keindahan diwajahnya. Berjalan dengan perlahan menghampiri tempat duduk disamping fahmi dengan dituntun ibu dari mempelai wanita dan seorang kerabatnya.
Tingggg suasana berubah 180 derajat, kupu-kupu berterbangan, keadaan sekitar mendadak menjadi sebuah taman dengan bunga-bunga yang memiliki kilauan cahaya. Entah tumbuhan apa itu. Dari kejauhan fahmi melihat senyumnya yang manis nan indah, sehingga keadaan sekitar yang sudah indah pun kalah dengan senyumnya sang bidadari impian. Fahmi melihat senyumnya lewat dua bola mata yang tadinya bulat, kemudian kelopak matanya menutupi sebahagian sedikit tengahnya. Bulu mata riasnya yang lentik, sesekali sang bidadari impian mengedipkan matanya. Terlihat indah, bintang-bintang pun bertaburan keluar setelah kepakan dua kelopak mata sang bidadari impian.
wahai bidadari ku. Bolehkan kuraih tanganmu?
Bidadari impian fahmi menjawab dengan isyarat anggukan kepala seolah mengatakan iya
Dilihatnya tangan yang indah dihiasi dengan hena bermotiv bunga disekeliling punggung kedua tangannya ditambah kuku yang dihiasi kilauan seolah permata kecil. Sehingga membuat siapapun yang melihatnya akan terngangah dengan membuka mulut.
Diangkatnya kedua tangan bidadari impian oleh fahmi dan dengan maksud untuk menempatkan sebentar dibibirnya.
fahmi????!!apa-apaan kamu ini? Ngigo?teriak ummi disamping kasur fahmi sambil dijewernya hidung fahmi.
ummi. Apa sih mi? ngeganggu aja.Jawab fahmi sambil mengelus-elus hidungnya yang sakit.
kamu tuh kenapa, tidur senyam-senyum. Ummi teriakin dari luar kamarmu. Ga nyaut-nyaut.
hehe gitu yah mi?.
sudahlah. Ayo cepat!! Waktunya makan malam.

 Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, samudera, langit, senja, luar ruangan, air dan alam

Wednesday, December 5, 2018

Peran Karakter Dalam Dakwah


MAKALAH
TEKHNIK PENULISAN KAYA ILMIAH (TPKI)
PERAN KARAKTER DALAM DAKWAH
                                                                                               








Dosen pengampu: Anwar Djaelani
Disusun oleh: Ahmad Padilah
Prodi: KPI
Tahun Akademik 2018-2019












KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiimi
              Segala puji bagi Allah yang telah membawa penulis hingga tahap penyelesaian makalah. betapa banyak kesibukan dalam aktivitas ini, namun hal itu tidak menjadi hambatan untuk penulis menyelesaikan makalah. karena, semua ini tidaklah terjadi. Kecuali atas izin Allah.
              Tidaklah hati ini, jiwa ini, batin ini bahagia kecuali tiada hentinya lisan ini mengucapkan Alhamdulillah atas semua nikmat engkau Yaa Allah.
              Tidak lupa pula shalawat beriring salam kepada panutan kita, sehingga penulis dapat menjaga batasan yang telah dicontohkannya agar tidak melewati batas syari’ah. Yakni Nabi Muhammad SAW. Kepada keluarganya, para sahabat, tabi’in, atbu tabi’in
              Terima kasih teruntuk semua yang ikut andil dalam penyelesaian makalah ini, semoga Allah membalas atas semua kebaikannya. Aamiin

                                                                                                               Surabaya, 06 Desember 2018
                                                                                                             Mahasiswa STAIL


                                                                                                           (Ahmad Padilah)













Kata pengantar ............................................................................................................. I
Daftar isi...................................................................................................................... II
BAB I Pendahuluan
A.    LATAR BELAKANG.................................................................................... 1
B.     RUMUSAN MASALAH............................................................................... 2
BAB II Tentang Karakter dam Dakwah
A.  KARAKTER.................................................................................................... 3
1.      Pengertian................................................................................................... 3
2.      Karakter dalam islam.................................................................................. 3
3.      Karakter masa jahiliyah............................................................................... 4
4.      Karakter Rasulullah..................................................................................... 5
5.      Tatanan dan urgensi karakter dalam islam.................................................. 8
B.  DAKWAH........................................................................................................ 8
1.      Pengertian................................................................................................... 8
2.      Dakwah sebagai tugas Da’i......................................................................... 9
BAB III Kesimpulan Dan Saran
A.    KESIMPULAN............................................................................................. 11
B.     SARAN......................................................................................................... 11
Daftar Pustaka............................................................................................................... 12






























BAB I
PENDAHULUAN
A.                LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam kehidupan saat ini karakter banyak diperbincangkan ditengah umat, terutama dikalangan orang-orang berilmu. Sikap dan prilaku umat dan bangsa yang sekarang ini cenderung mengabaikan nilai-nilai mulia yang sudah lama dijunjung tinggi dan mengakar dalam sikap dan karakter sehari-hari. Nilai-nilai karakter mulia seperti kejujuran, kesantunan, kebersamaan dan religius, sedikit demi sedikit mulai tergerus oleh budaya asing yang hedonistik, materialistik dan individualistik, sehingga nilai-nilai karakter mulia tersebut tidak lagi dianggap penting jika bertentangan dengan tujuan yang ingin diperoleh.[1]
Jika disimak dengan cermat, bagaimana Rasulullah SAW berjuang sehingga menghasilkan suatu transformasi sosial yang begitu besar, bukanlah didasarkan pada spontanitas dan reaksi situasional yang segmentatif. Sebaliknya ada suatu kerangka kerja yang sistematis yang berjalan kontinyu dan konsisten serta kinerja Rasulullah dapat dilihat dengan jelas dengan turunnya wahyu Al-Qur’an sehingga menghasilkan peradaban islam bisa puncak dan tegak kehidupan manusia dimana setiap orang mamapu mewujudkan diri sebagai hamba Allah dan khalifah dimuka bumi.
Keberhasilan Rasulullah dalam mengubah wajah dunia, tidak terlepas dari perjuangan beliau bersama para sahabatnya. Dalam waktu yang relatif singkat, wajah suram dunia arab jahiliyah berubah dengan cahaya iman. Kawasan yang tadinya tidak beradab diubab menjadi kawasan yang berpradaban tinggi. Masyarakat yang tadinya berpegang teguh pada tradisi nenek moyang diubah menjadi masyarakat yang menggunakan akal dan hati nuraninya untuk menerima bimbingan hidayah. Masyarakat yang menyebah berhala, berubah menjadi masyarakat bertauhid.
Sukses Rasulullah mengubah wajah dunia ini bukannya datang secara tiba-tiba, selain diraih melalui usaha, kerja keras dan perjuangan yang tak pernah putus, yang lebih penting lagi ridha, petunjuk dan bimbingan yang beliau terima dari Allah SWT.[2]
Keberhasilan Rasulullah SAW dalam mendakwahkan islam dibumi jazirah arab, tidak terlepas dari pedoman karakter beliau sebagai seorang Rasul. Banyak tantangan, cobaan dan kecaman yang dihadapi Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam menyebarkan islam.
Konsep dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata adalah agar si penerima dakwah (al-mad’ulah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si da’i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah. Pada saat pertama kali Rasulullah SAW tiba dikota madinah, beliau mencontohkan dakwah bil-hal dengan mendirikan mesjid Quba, dan mempersatukan kaum Anshar dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah islamiyah.[3]
Sudah terbukti bahwa Rasulullah SAW. Sebagai suri tauladan yang baik, dalam perjalanannya berdakwah, beliau membimbing para sahabatnya dengan karakter yang baik sebagai hikmah dari perjalanan dakwah beliau untuk dijadikan suri tauladan, baik saat beliau masih ada atau setelah beliau wafat.
Bedasarkan paparan distas, maka penulis tertarik untuk dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan judul “peran karakteristik dalam dakwah”
B.                 Rumusan masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang telah penulis uraikan diatas, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Kenapa peran karakter penting dalam dakwah?
2.      Bagaimana membangun karakter dalam dakwah?















BAB II
TENTANG KARAKTER DAN DAKWAH
A.    KARAKTER
1.              Pengertian
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menyamakan istilah karakter dengan watak, sifat ataupun kepribadian. Padahal jika ditelisik lebih lanjut, arti karakter dengan watak ataupun sifat tidaklah sama.
Lantas apa itu karakter? Pada dasarnya karakter merupakan akumulasi dari sifat, watak dan juga kepribadian seseorang. Selain pengertian ini, ada banyak sekali pengertian kata karakter yang diungkapkan oleh para ahli. Pengertian karakter menurut para ahli:
·        Wyne
Karakter menandai bagaimana cara ataupun teknis untuk menfokuskan penerapan nilai kebaikan kedalam tindakan ataupun tingkah laku.
·        Kamisa
Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang dapat membuat seseorang terlihat berbeda dari orang lain. Berkarakter dapat diartikan memiliki watak dan juga kepribadian.
·        Gulo w
Karakter adalah kepribadian yang dilihat dari titik tolak etis ataupun moral (contohnya kejujuran seseorang). Karakter biasanya memiliki hubungan dengan sifat-sifat yang relatif tetap.[4]
2.              Karakter dalam Islam
Didalam terminologi islam, karakter disamakan dengan khuluq (bentuk tunggal dari mufrod). Akhlak yaitu kondisi batiniyah dalam dan lahirian (luar) manusia. Kata akhlak berasal dari khalaqa خلق)) yang berarti perangai, tabiat dan adat istiadat. Akhlak sendiri diambil dari bahasa arab yang bentuk mufradnya berarti khuluqun خلق yang mneurut logat diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.[5] Muhammad bin Ali Asy-syarif Al-jurjani mengatakan bahwa, akhlak itu bagi sesuatu sifat yang tertanam kuat dalam diri yang darinya keluar perbuatan-perbuatan dengan mudah, ringan tanpa perlu berfikir dan merenung. Akhlak adalah sikap manusia dalam bergaul sesamanya. Ada yang terpuji ada yang tercela.
3.              Karakter pada masa jahiliyah
Kita pasti sudah mengetahuinya bagaimana kehidupan pada masa jahiliyah, banyak terdapat hal-hal yang hina. Tindakan pelecehan terhadap perempuan dan tindakan yang tidak pantas dilakukan dan diterima baik secara akal maupun ruhani. Namun, walaupun begitu mereka masih memiliki akhlak terpuji, yang mengundang kekaguman manusia dan simpati. Diantara akhlak-akhlak itu ialah:
a.        Kedermawanan
Mereka saling berlomaba-lomba  dan membanggakan diri dalam masalah kedermawanan dan kemurahan hati. Bahkan separuh syair-syair mereka bisa dipenuhi dengan pujian dan sanjungan terhadap kedermawanan ini. Diantara kedermawanan ini, mereka biasa merasa bangga karena minum khamr. Bukan kebanggan karena minumnya itu, tetapi karena hal itu dianggap sebagai salah satu cara untuk menunjukan kedermawanan dan merupakan cara paling mudah untuk menunjukan pemborosannya. Maka, tidak heran jika mereka menyebut pohon anggur dengan nama al-karam (kedermawanan), sedangkan khamr yang dibuat dari anggur  disebut bintul-karam (putri kedermawanan).
Pengaru lain dari kedermawanan ini. Mereka biasa main judi, mereka menganggap main judi merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan kedermawanan, karena dari laba judi itulah mereka bisa memberi makan orang-orang miskin, atau mereka bisa menyisihkan sebagian uang dari andil orang-orang yang mendapat laba. Oleh karena itu Al-Qur’an tidak mengingkari manfaat khamr dan main judi, namun dengan membuat redaksi sebagai berikut:
“tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (Al-Baqarah:219)
b.        Memenuhi janji
Di mata mereka, janji sama dengan hutang yang harus dibayar. Bahkan mereka lebih suka membunuh anaknya sendiri dan membakar rumahnya dari pada meremehkan janji. Kisah tentang Hani’ bin mas’ud Asy-Syaibany, As-Samau’al bin Adiya dan Hajib bin Zararah sudah cukup membuktikan hal itu.
c.              Kemuliaan jiwa dan keengganan menerima kehinaan dan kelaliman
Akibatnya, mereka bersikap berlebih-lebihan  dalam masalah keberanian, sang pecemburu dan cepet naik darah. Mereka tidak mau mendengar kata-kata yang menggambarkan kehinaan dan kemorosotan, melainkan mereka bangkit menghunus pedang, lalu pecah peperangan yang berkepanjangan. Mereka tidak lagi memperdulikan kematian bisa menimpa diri sendiri karena hal itu.
d.             Pantang mundur
Jika mereka sudah menginginkan sesuatu yang disitu ada keluhuran dan kemuliaan, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghadang atau mengalihkannya.
e.              Kelemahlembutan dan suka menolong orang lain
Mereka biasa membuat sanjungan tentang sifat ini. Hanya saja sifat ini kurang tampak karena mereka berlebih-lebihan dalam masalah keberanian dan mudah terseret kepada peperangan.
f.              Kesederhanaan pola kehidupan badui
Mereka tidak mau dilumuri warna-warni pradaban dan gemerlapnya. Hasilnya adalah kejujuran, dapat dipercaya, meninggalkan dusta dan penghianatan.
Kita melihat akhlak-akhlak yang sangat berharga ini, disamping letak geografis jazirah arab, merupakan sebab mengapa mereka dipilih untuk mengemban beban risalah yang menyeluruh, menjad pemimpin umat dan masyarakat manusia. Sebab akhlak-akhlak ini, sekalipun sebagian diantaranya ada yang menjurus kepada kejahatan dan menyeret kepada kejadian-kejadian mengenaskan, toh pada dasarnya itu merupakan akhla yang berharga, yang bisa mendatangkan manfaat secara menyeluruh bagi masyarakat manusia jika mendapat sentuhan perbaikan. Maka, inilah tugas islam.
Barangkali akhlak yang paling menonjol dan paling banyak mendatangkan manfaat setelah pemenuhan janji adalah kemuliaan jiwa dan semangat pantang mundur. Sebab kejahatan dan kerusakan tidak bisa disingkirkan, keadilah dan kebaikan tidak bisa disingkirkan, keadilan dan kebaikan tidak bisa ditegakkan kecuali dengan kekuatan ambisi seperti itu. Sebenernya mereka masih mempunyai sifat-sifat utama selain yang kita sebutkan ini.[6]
4.              Karakter (akhlak) Rasulullah
Diantara perintah Allâh Azza wa Jalla kepada kita adalah perintah agar kita mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Allâh Azza wa Jalla berfirman : لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasûlullâh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allâh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allâh [al-Ahzâb/33:21]
Untuk meneladani dan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kita terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kehidupannya. Maka pada hari ini, kita akan sedikit saling mengingatkan tentang keagungan pribadi dan akhlak Muhammad Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Semoga dengan mengenal dan terus mengingatnya, kita akan semakin terpacu untuk mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Pribadi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pribadi yang sangat agung, yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Akhlak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memadukan antara pemenuhan terhadap hak Allâh, sebagai Rabbnya dan penghargaan kepada sesama manusia. Dengannya, hidup menjadi bahagia dan akhirnya berbuah manis. Bagaimanakah akhlak Rasûlullâh itu? Berikut diantaranya :
Muhammad Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang hamba yang banyak sekali bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla atas nikmat-nikmat-Nya dan sering bertaubat dan beristigfâr. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sampai kedua kaki beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bengkak, sehingga ada yang mengatakan
 يَا رَسُوْلَ اللهِ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Wahai Rasûlullâh! Allâh telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lewat dan yang datang?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ringan menjawab, “Apakah aku tidak mau menjadi hamba yang banyak (pandai) bersyukur?!”
Meski beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat pandai bersyukur kepada atas segala limpahan nikmat-Nya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap saja banyak beristighfâr, memohon ampun kepada Allâh Azza wa Jalla . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapapun dengan tangan beliau, meskipun seorang pembantu kecuali dalam kondisi jihad fi sabilillah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah melakukan aksi pembalasan terhadap semua perlakuan buruk yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam alami kecuali jika perlakukan buruk tersebut sudah masuk kategori pelanggaran terhadap apa yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla , maka saat itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan pembalasan karena Allâh Azza wa Jalla
Pergaulan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak hanya sebatas orang-orang dewasa saja, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mendatangi dan mengucapkan salam kepada anak-anak kecil serta mencandai mereka. Namun perlu diingat bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkan perkataan dusta, meski sedang bercanda. Pernah ada yang mengatakan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ تُدَاعِبُنَا قَالَ إِنِّي لاَ أَقُوْلُ إِلاَّ حَقًّا
Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya engkau mencandai kami,” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya saya tidak mengucapkan apapun kecuali yang benar.” [HR. al-Bukhâri dalam Adabul Mufrad, no. 265 dan at-Tirmidzi, no. 1990 dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu][7]






5.              Tatanan dan urgensi karakter dalam islam
a.       Tatanan karakter dalam perspektif islam
Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya
Tatanan akhlak dalam perspektif islam bercirikan dua hal sebagai berikut:
·        Karakter Rabbani
Hal ini menjadi dasar yang paling kuat karena setiap detik kehidupan manusia harus berdasarkan atas hasratnya untuk berkhidmah kepada Allah memalui intraksinya dengan makhluknya. Karena itu, wahyu dirilis sejalan dengan bentuk tatanan akhlak ini.
·        Karakter manusiawi
Jika dilihat dari akhlak yang merupakan aturan hukum dari dasar-dasar umum lainnya.
b.      Urgensi karakter dalam perspektif islam
·        Merupakan salah satu tujuan risalah islam
·        Standar kebaikan seorang mu’min
·        Menjadi unsur penentu kesempurnaan iman seseorang
·        Salah satu amalan memperberat timbangan pada hari akhir
·        Faktor terbesar masuknya seorang muslim kesyurga[8]
B.     DAKWAH
1.      Pengertian
Hal yang sangat menarik berkaitan dengan dakwah Nabi SAW. Adalah ketajamannya dalam melihat social setting masyarakat saat itu. Masyarakat arab, ketika wahyu turun, digambarkan para sejarawan sebagai komunitas masyarakat jahiliyah. Yang mana sikap dan prilakunya masih kental sebagaimana nenek moyang mereka.[9]
Mereka menganut berbagai agama dan kepercayaan. Yahudi, kristen, syabi’in dan zoroaster adalah diantara beberapa agama dan kepercayaan yang populer saat itu. Mereka memiliki kebiasaan menyenbah kepada tuhan yang banyak (syirik) dengan ka’bah sebagai pusat peribadatan. Permusuhan dan peperangan dalam merebutkan wilayah kekuasaan, praktek riba dan prilaku tidak layak terhadap wanita. [10]
Banyak definisi telah dibuat untuk merumuskan pengertian dakwah yang intinya adalah mengajak manusia ke jalan Allah SWT agar mereka bahagia didunia dan di akhirat.[11] Sebenarnya dakwah itu bisa dipahami sebagai materi ataupun tindakan
Dalam bahasa arab, da’wat atau da’watun biasa digunakan untuk arti-arti: undangan, ajakan dan seruan yang kesemuanya menunjukan adanya komunikasi antara dua pihak dan upaya mempengaruhi pihak lain. Ukuran keberhasilan undangan, ajakan atau seruan adalah manakala pihak kedua yakni yang diundang memberikan respon fositive, yaitu mau datang atau memenuhi undangan itu. Jadi, kalimah dakwah mengandung muatan makna aktiv dan menantang.[12]
Aktivitas dalwah bertujuan menyebarkan ajaran Al-qur’an dan hadits yang dibawa Rasulullah SAW. Dalam islam, menyampaikan ajaran islam bukan hanya tanggung jawab para ahli agama (ulama) saja, melainkan setiap orang islam sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. “Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat” begitu petikan sabda Rasulullah yang secara eksplisit mewajibkan menyampaikan dakwah bagi setiap umat islam.
Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama islam lebih dari 85% penduduknya memeluk islam. Meskipun mayoritas, muslim indonesia tidak memiliki kekuatan signifikan khususnya dalam politik. Dua masa rejim kekuasaan orde lama dan orde baru telah mengkrangkeng umat islam dari kehidupan politik dan tidak memiliki kendali politik.[13]
2.              Dakwah sebagai tugas Da’i
Kalimat dakwah mengandung muatan makna aktif dam menantang, berbeda dengan kalimat tabligh yang artinya menyampaikan. Ukuran keberhasilan seorang mubaligh adalah manakala ia berhasil menyampaikan islam dan pesannya sampai (mawa ‘alaina illa al balagh) sedangkan bagaimana respon masyarakat tidak menjadi tanggung jawab.
Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa bahwa dakwah ialah usaha mempengaruhi orang lain agar mereka bersikap dan bertingkah laku seperti apa yang didakwahkan oleh Da’i.[14]
Dalam berdakwah, seorang da’i menghadapi tantangan beraneka ragam bentuknya,  baik bentuk klasik: bisa pada penolakan, cibiran, cacian, ataupun teror bahkan sampai pada tataran fitnah. Banyak para da’i mampu mengatasi tantangan atau rintangan tersebut dengan baik baik karena niatnya memang telah kuat sebagai pejuang. Meski demikian, ada pula yang tidak mampu untuk mengatasinya sehingga tersingkir dari kancah dakwah[15]
Allah swt. telah memberikan rambu-rambu kepada kita tentang hal ini:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka sedang dibiarkan (saja) mengatakan, “ Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji? Sesungguhnya kami telah menguji orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Ia mengetahui orang yang berdusta.” (al-Ankabut: 2-3).
Jalan dakwah bukan rentang yang pendek dan bebas hambatan, bahkan jalan dakwah sebenarnya penuh dengan kesulitan, amat banyak kendala dengan jarak tak terkira jauhnya. Tabiat ini perlu diketahui dan dikenali setiap aktivitas dakwah, agar para juru dakwah (da’i) bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi diperjalanan sehingga revolusi informasi dan komunikasi di jalan dakwah bisa kita atasi.[16]














BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Sadar tidak sadar, pada era tekhnologi informasi saat ini umat manusia dihadapkan pada berbagai pilihan. Yang dimana pilihan itu dapat membawa perubahan, manfaat dan hikmah. Dalam memilih strategi dakwah, bahwa pentingnya strategi dalam dakwah islam yang dibuat secara rasional agar dapat mencapai tujuan-tujuan islam yang meliputi kemanusiaan. Strategi dakwah karakteristik brarti suatu perencanaan yang matang dan bijak tentang dakwah islam secara rasional untuk mencapai tujuan islam.
Karakter itu bisa kita dapat dari panutan kita yakni Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah. Karena beliau adalah satu-satunya makhluk Allah yang paling sempurna. Mulai dari cara beribadah hingga beliau meludah, disitu tidak ada yang kita tidak tiruan, kecuali bila kita tidak menginginkan pahala dari Allah. Maka dari itu, disisi kita berdakwah, kitapun dapat mengamalkan ilmu yang kita miliki.
B.       Saran
Kita sebagai seorang muslim, wajib bagi kita menyampaikan ilmu yang kita miliki. Salah satunya memalui sikap kita terhadap orang lain. Karena, kebanyakan orang seringkali terkagum dengan sikap yang terpuji daripada menyampaikan yang terkesan menyuruh.











Daftar Pustaka
Al-Mubarakfury Syafiyyurahman, sirah nabawiyah (Jakarta: pustaka al-kautsar, 1997)
Aripudin Acep dan Syukriadi Sambas, dakwah damai, (Bandung: PT remaja rosdakaya 2007)
Baca makalah pengertian pendidikan karakter 05/09/2013
Baca skripsi kajian materi dakwah dalam konsep sistematika nuzulnya wahyu (SNW) 2011
Baca skripsi pola dakwah sidang dakwah masjid mujahidin 2011
Baca https://makalahnih.blogspot.com/2014/09/kata-pengantar-alhamdulillahsegala-puji.html
Mubarok Achmad, psikologi dakwah, (Jakarta:pustaka firdaus 1999)



[1] Baca makalah pengertian pendidikan karakter 05/09/2013
[2] Baca skripsi kajian materi dakwah dalam konsep sistematika nuzulnya wahyu (SNW) 2011
[3] Baca skripsi pola dakwah sidang dakwah masjid mujahidin 2011
[5] Baca https://makalahnih.blogspot.com/2014/09/kata-pengantar-alhamdulillahsegala-puji.html
[6] Shafiyyurahman Al-Mubarakfury, sirah nabawiyah (Jakarta: pustaka al-kautsar, 1997), h. 63-65
[8] Ibid.
[9] Acep Aripudin dan Syukriadi Sambas, dakwah damai, (Bandung: PT remaja rosdakaya 2007), h.9
[10] Ibid., 8
[11] Achmad Mubarok, psikologi dakwah, (Jakarta:pustaka firdaus 1999)., h. 19
[12] Ibid.
[13] Ibid., h.108
[14] Ibid., h.19-20
[16] Ibid.